Arsip Bulanan: Februari 2009

Erik

GUNTING BERHANTU

Erik malas sekali harus melakukan investigasi malam itu. Sebagai anggota polisi satuan khusus kasus spesifik, Erik malam itu meneliti kasus pembunuhan yang sangat aneh. Motifnya seperti bunuh diri. Mayat dihadapannya seperti terkoyak-koyak benda tajam. Leher wanita malang itu nyaris putus dan matanya melotot. Darah berceceran di baju yang terkoyak dan tubuh mulus putihnya. Hampir sekujur tubuh mayat itu penuh dengan baretan atau tusukan. ”Seperti kesetanan pak” kata detektif disamping Erik. Yang cukup mengejutkan, barang bukti berupa gunting besi tergletak di sisi mayat itu. Ya, sebuah gunting tua dari besi dengan pegangan warna hitam dan ujungnya berkarat serta berlumuran darah dan organ-organ tubuh. Dengan bergidik, Erik mengambil gunting itu setelah menggunakan sarung tangan steril. Ukurannya agak besar dibandingkan gunting biasa dan umurnya pasti sudah tua sekali pikir Erik setalah memegang gunting itu. Setelah itu,barang bukti tersebut dimasukkan ke kantung plastik dan mayat wanita malang tersebut juga dibungkus untuk dilakukan otopsi. Sambil agak menguap, Erik meneruskan hasil temuannya untuk diteliti di kantor. Sampai diruangannya, Erik menggletakkan gunting itu di meja kerjanya. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul setengah satu pagi. Detektif pendampingnya meminta ijin untuk mengotopsi mayat di rumah sakit. Erik berdehem dan dia kini sendiri di kantornya. Dengan hati-hati Erik membersihkan serpihan daging dan darah di ujung gunting tua tersebut dan mengelap pegangannya. Sesaat sunyi diruangnya dan Erik hanya mendengarkan nanar lampu kerjanya berpijar. Tiba-tiba dirasakan angin berhembus disekitarnya. Kupingnya terasa dingin dan bulu kuduknya berdiri. Erik merasa bahwa tidak ada celah di dinding-dindingnya dan jendelapun tertutup rapat. Karena dirasa aneh,Erik bangkit dari kursinya dan memandang sekitarnya. Kosong dan kembali hanya suara pijar lampu yang mengisi kekosongan itu. ”Ah hanya perasaanku saja” pikirnya. Erik menguap sekali lagi. Tubuhnya terasa penat sekali. Erik terperanjat melihat gunting dan tangannya berlumuran darah. Segera dibantingnya gunting yang ada di genggaman itu ke meja. Tubuhnya bergidik membaui anyir darah yang berlepotan ditangannya. Erik berusaha mengelap tangannya dengan tisu. Dilihatnya gunting itu tergeletak tak berdaya diatas meja. Dengan bergetar tangannya mengulur ke arah gunting tua itu. Ada sebuah bisikan kini yang membimbing untuk mengambil gunting. Bisikan itu dirasa kuat. Setelah tergenggam, Erik seperti kesetanan mulai membelainya. Kini jari-jari Erik terluka karena permukaan gunting yang tajam. Perih dirasa takala darah yang mengucur dari ujung-ujung jarinya. Bisikan itu menjadi semakin kuat dan menyuruh Erik untuk menciumi permukaan gunting tua itu. Erik menuruti dan kini permukaan mulutnya bersimbah darah karena terluka. Beberapa saat lamanya Erik berkutat dengan gunting tua itu. Keesokan pagi mayat Erik ditemukan dengan luka tusukan di dada dan gunting menancap di matanya. Sang detektif yang kemarin dihadapkan dengan mayat wanita kini harus berurusan dengan mayat sahabatnya, Erik. Dengan hati-hati si detektif itu mencopot gunting tua yang menancap di mata Erik dan dimasukkan ke kantung. Dengan hati-hati permukaan gunting itu dibersihkan dari serpihan daging yang mengotorinya. Atasannya menyuruh si detektif untuk memeriksa gunting itu dan sang detektif memasukkan barang bukti itu ke kantung plastik untuk kemudian diperiksanya nanti malam.

Sote

TAMU TENGAH MALAM

Hampir tengah malam saat itu, ketika hujan deras terus mengguyur di lingkungan rumah Sote. Dirumah besarnya itu Sote tinggal bersama keluarga besarnya. Deru dan gremicik hujan menyeruak di keheningan antara kesunyian malam dan sayup-sayup musik yang memancar dari radio didalam kamar sementara empunya yang masih setengah terjaga. Diantara sadar dan tidak, Sote mendengar menggedor pagar rumahnya. Suara pagar besi yang digedor-gedor itu menyeruak diantara guyuran hujan deras. Setengah terbangun, Sote memicingkan kupingnya untuk lebih mendengarkan lagi. Sekali lagi gemerincing pagar besi terdengar disela-sela deru hujan. Dengan agak malas bangkit, Sote melihat jam dinding. Jam setengah duabelas malam. Bukan waktu yang tepat untuk berkunjung, pikirnya. Selintas dia memikirkan kejadian seharian sebelum saat ini,apakah dia membuat janji atau menyuruh sesorang untuk datang ke rumahnya. Tapi ”arghhh,tidak harus tengah malam buta begini khan datang” pikirnya. Ditambah lagi suasana hujan deras membuat malam menjadi dingin. Kembali suara pagar besi didorong-dorong muncul membuat rasa keingintahuannya muncul. Kamarnya yang berada dilantai 2 memungkinkan Sote untuk bisa melihat keadaan di depan rumahnya. Kelambu di jendela kamarnya di sibak perlahan dan terperanjatlah Sote melihat sesosok tubuh manusia berada di bawah,tepatnya diluar pagar rumahnya. Sosok yang asing itu menggunakan jubah hitam hingga Sote tidak bisa melihat wajahnya. Sejurus rasa bergidik muncul di benaknya melihat sosok asing ditengah malam itu. Tamu tak diundang pikirnya. Hampir dia tidak mau memperdulikan sosok asing didepan rumahnya dan kembali menutup kelambu kamarnya kembali takkala sesosok asing itu menatap tajam kearah Sote. Sote terkejut bukan kepalang. Sosok yang seperti seorang pria menengadah kearahnya. Wajahnya masih tertutup jubah hingga tidak bisa dikenali. Dihinggapi rasa takut yang sangat, Sote menutup kelambunya dan kembali ke tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian hening dan hanya deru hujan serta suara dari radio yang sudah habis siarannya. Sote hampir terpejam tak kala kemudian tiba-tiba kaca jendelanya diketuk dengan pelan. Sote hampir menjerit karena terkejutnya. Kepalanya dibenamkan ke selimut tebal sambil napasnya tersengal-sengal. Sesaat kemudian kembali kaca jendelanya diketuk dengan perlahan. Tidak hanya itu,Sote juga mendengar suara seseorang sedang mendesis mengucapkan sesuatu yang tidak jelas dari luar kamarnya. Sote tahu bahwa yang mengetuk jendela kamarnya bukanlah orang biasa mengingat kamarnya tidak memiliki balkon. Dan lebih mengejutkan lagi ketukan berikutnya bukanlah dari jendela melainkan dari bawah tempat tidurnya. Sote berteriak keras hingga jatuh dari kasurnya. Dilihatnya sekeliling kamarnya, lampu masih menyala dan radio belum dimatikan. Tubuhnya bersimbah peluh dan nafasnya tersengal-sengal menyadari dirinya mimpi sangat menyeramkan malam ini. Jam dinding menunjukkan pukul satu tak kala dia mematikan radio dan kembali menarik selimutnya untuk melanjutkan istirahatnya. Bibirnya tersenyum membayangkan bahwa dirinya hanya mimpi buruk. Hampir saja pulas kembali, Sote tiba-tiba mendengarkan pagar besi rumahnya dipukul-pukul kembali. Ternyata mimpi buruk belum berakhir………………………